Minggu, 23 Oktober 2016

Sehari Jumlah Nahdliyyin Bertambah 7 Juta: Ini Mendadak NU Politis Untuk Fatwa Politis

Nadlatul Ulama - Fenomena #MendadakNU atau peristiwa kaget ujug-ujug NU dapat dukungan dari kelompok yang selama ini berseberangan 180 derajat, adalah paradoks. Satu sisi menggembirakan, karena dalam sehari jumlah warga NU bertambah jadi 7 juta (menurut survei ala #MendadakNU), namun di sisi lain, mereka ini sangat membenci amaliyah dan ubudiyah yang dilestarikan oleh nahdliyyin.

Survei mendadak NU oleh Sunanto Asmawijaya Jadi, motif mereka ini sebetulnya apa? Jawaban mendadaknya, -dari Netizen NU,- mereka ini senang jika warga NU ikut melebur melawan musuh yang selama ini ingin dipenjarakan. Siapa lagi kalau bukan Ahok. Tokoh NU yang dihina oleh Ahok, dimanfaatkan kelompok #MendadakNU sebagai alat memancing kemarahan warga NU. Akhirnya, NU pun dipropagandakan ada di barisan mereka.

Menurut Netizen NU di Jakarta, untuk membuktikan mereka ini hanya sekadar "numpang tampar tangan NU" sangat mudah. Coba saja Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa kalau amalan nahdliyyin seperti maulidan, manaqiban, ziarah kubur, tahlilan dan lainnya bukan bid'ah tapi sunnah.

"Kalau mereka ingkar, berarti NU mereka adalah NU politis," ujar Netizen NU DKI Jakarta, Reinaldy, Jumat (03/02/2017) dini hari. NU politis artinya bukan nahdliyyin beneran, tapi berlagak mendukung namun bisa saja di belakang muka menikam.

Menurut Cak Fahmi, Netizen NU Jawa Timur, Fenomena #MendadakNU itu sebenarnya sudah terjadi sejak almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) keempat.

"Saya pernah lihat di kediaman beliau di Warung Silah, banyak orang datang mengantri untuk bertemu beliau, dan hampir semuanya mengaku sebagai warga nahdliyyin, termasuk juga yang keturunan Tionghoa," ujar Cak Fahmi kepada Nadlatul Ulama, Jumat (03/02/2017) dini hari.

Menurutnya, tidak ada satupun dari mereka yang antri di kediaman Gus Dur kala itu yang terang-terangan mengaku sebagai warga Muhammadiyah, anggota Persis, apalagi PK (Partai Keadilan), "bahkan Presiden PK waktu itu itu (Dr. Nurmahmudi Ismail) ketika dipilih Gus Dur sebagai Menhutbun (Menteri Kehutanan dan Perkebunan) pun mengaku sebagai warga nahdliyyin asal Kediri," imbuh Fahmi via saluran WhatsApp.

Orang-orang Islam yang mendadak mengaku NU tapi punya riwayat suka menghardik amaliyah dan bahkan menghina kiai NU, lanjutnya, perlu dibaca sebagai gerakan politis untuk kepentingan sesaat mengingat saat ini ada fatwa soal Ahok yang rentan disalahpahami, "jadi, bukan baru kali ini fenomena mendadak NU itu terjadi," tutur Cak Fahmi. [Nadlatul Ulama]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/sehari-jumlah-nahdliyyin-bertambah-7-juta-mendadak-nu-politis-untuk-fatwa-politis.html

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Nadlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Nadlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Nadlatul Ulama dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock