Kamis, 24 Maret 2011

Gus Mus: Sekarang Ini Orang Punya Duit, Berwibawa Sekali

Jakarta, Nadlatul Ulama. Sekarang ini, kalau kata Kiai Masdar Farid Masudi, syuriyah PBNU, orang yang punya duit tampak berwibawa sekali, ujar Kiai A. Musthofa Bisri, Wakil Rais Aam PBNU saat menjadi pemrasaran dalam acara Majelis Musayawarah Nasional Film Indonesia di Lt. 8 Gedung PBNU, Kamis (12/4).

Praktik ekonomi sebagai panglima kini berlaku. Perilaku ini bukan tanpa ekses. Pengaruhnya terhadap mental masyarakat sangat terasa. Mereka tak lagi percaya diri dengan modal rohani dalam dirinya. Tafsiran ekonomi hanya digiring ke arah material belaka. Ujungnya, material adalah kiblat dunia masyarakat Indonesia. Masyarakat membungkuk-bungkuk di bawah selera para pemegang aset material.

Gus Mus: Sekarang Ini Orang Punya Duit, Berwibawa Sekali (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Sekarang Ini Orang Punya Duit, Berwibawa Sekali (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Mus: Sekarang Ini Orang Punya Duit, Berwibawa Sekali

Kiblat ekonomi berjalan selama 32 tahun Orde Baru. Ekonomi menjadi motif perilaku kebudayaan nasional. Ekonomi menguasai arah angin kebudayaan keseharian masyarakat. Kekuasaan ekonomi sanggup menggerakkan tangan politik, militer, seni, dan budaya untuk berjalan sesuai pesanan.

Nadlatul Ulama

Motif ekonomi Orde Baru sangat berlainan dengan perilaku politik sebagai panglima Orde Lama. Kepentingan politik mendasari segala aktivitas masyarakat di era Orde Lama. Aspek kesenian dan kebudayaan, masuk di dalamnya. Saat itu, materi tak memiliki wibawa sebesar kini.

Namun, usai jatuhnya Orde Lama, politik dicopot dari jabatan panglima. Orde Baru melantik ekonomi sebagai panglima baru. Dari sini, wibawa dan pengaruh materi naik ke langit ke tujuh. Pengaruhnya merambah ke ranah politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan termasuk kesenian.

Dunia perfilman nasional, bukan wilayah pengecualian. Dunia film sangat bergantung pada para pemilik modal. Ketika modal berkuasa, nilai dan pandangan-pandangan luhur tak lagi menjadi perhatian. Film takluk di bawah kaki para pemilik modal. Aspek jualan sangat dikedepankan. Unsur pendidikan yang konstruktif tak lagi menjadi kandungan utama dalam seni pertunjukan film.

Nadlatul Ulama

Sementara, Pak Djamaludin Malik, Asrul Sani, dan Usmar Ismail memiliki kepedulian penuh untuk mendidik masyarakat menjadi cerdas lewat film. Kalau ingin menghibur, mereka membuat film yang benar-benar menghibur masyarakat misalnya film Darah dan Doa. Karenanya, setelah menonton, masyarakat mendapat kesegaran tanpa kehilangan unsur pendidikannya, tambah Gus Mus.

Acara Majelis Musyawarah Film Nasional ini dihadiri lebih 40 peserta dari pelbagai latar belakang berbeda. Mereka adalah sejumlah pengurus PBNU, para sineas Indonesia, aktor, pengamat perfilman Nasional, Parfi, perwakilan pemerintah dalam perfilman.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37486/gus-mus-sekarang-ini-orang-punya-duit-berwibawa-sekali

Nadlatul Ulama

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Nadlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Nadlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Nadlatul Ulama dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock