Minggu, 04 Desember 2005

Gus Sholah: Gejolak Pilkada DKI Kemarin, Imbas Buruk Pemutlakan Pendapat

Jakarta, Nadlatul Ulama. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, sejak dahulu umat Islam terbelah menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang mengartikan teks-teks agama secara literal dan kelompok yang memahami teks dengan menggunakan penafsiran-penafsiran.

Sejak dulu ada dua aliran besar dalam Islam, kata Gus Sholah.

Gus Sholah: Gejolak Pilkada DKI Kemarin, Imbas Buruk Pemutlakan Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Gejolak Pilkada DKI Kemarin, Imbas Buruk Pemutlakan Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Sholah: Gejolak Pilkada DKI Kemarin, Imbas Buruk Pemutlakan Pendapat

Hal ini disampaikan saat ia memberikan sambutan dalam acara Seminar Pemikiran Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan tema Keislaman dan Keindonesiaan: Aktualisasi Pemikiran dan Perjuangan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari di Gedung MPR RI Jakarta, Sabtu (6/5).

Menurutnya, kedua kelompok ini tidak perlu saling menyalahkan dan memaksakan pendapatnya karena keduanya tentu memiliki tendensinya masing-masing. Tidak perlu saling menyalahkan, ucapnya.

Nadlatul Ulama

Salah satu contoh mutakhir perdebatan sengit kedua kelompok tersebut, jelas Gus Sholah, adalah terkait dengan penafsiran kata aulia dalam Surat Al-Maidah ayat 51 dalam konteks pemilihan kepada daerah DKI Jakarta.

Nadlatul Ulama

Imbasnya, ada stigma negatif bagi kedua pendukung Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Mereka yang mendukung pasangan ini dianggap tidak nasionalis dan antikebhinnekaan. Sementara yang pendukung pasangan yang satunya lagi dianggap tidak Islami dan munafik.

Terkait hal itu, Gus Sholah mengkritik keduanya. Baginya, semua pihak harus saling menghormati dan tidak melakukan tindakan yang seperti itu.

Maka dari itu, ia mengusulkan untuk melaksanakan dialog untuk menjembatani kedua kelompok yang memiliki beda pandangan tersebut. Perlu dilakukan dialog dengan hati dan kepala yang dingin, terangnya.

Dialog tersebut, lanjut Gus Sholah, semestinya diinisiasi oleh tokoh yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Seperti Kiai Hasyim Muzadi kalau beliau masih hidup, tegasnya.

Di dalam dialog tersebut juga ditanyakan apa saja yang diinginkan dan yang tidak diinginkan kedua kelompok tersebut, lanjutnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77721/gus-sholah-gejolak-pilkada-dki-kemarin-imbas-buruk-pemutlakan-pendapat

Nadlatul Ulama

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Nadlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Nadlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Nadlatul Ulama dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock